ABSTRAK
Pengangguran terbuka masih menjadi persoalan struktural yang dihadapi hampir seluruh
daerah di Indonesia, termasuk kabupaten yang bertumpu pada sektor pertanian,
pariwisata, dan industri kecil. Salah satu instrumen kebijakan yang digunakan pemerintah
daerah untuk menekan angka pengangguran adalah pelatihan kerja berbasis kompetensi
yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Sumber Daya
Mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana efektivitas program
pelatihan kerja berbasis kompetensi dalam menurunkan angka pengangguran terbuka
serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan maupun kendala
pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik
pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam terhadap pengelola program
dan peserta pelatihan, serta studi dokumentasi terhadap laporan kinerja dinas. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa program pelatihan berbasis kompetensi memberikan
kontribusi positif terhadap peningkatan keterserapan tenaga kerja, meskipun capaiannya
belum optimal akibat keterbatasan anggaran, minimnya keselarasan kurikulum pelatihan
dengan kebutuhan pasar kerja, serta lemahnya sistem pemantauan pascapelatihan.
Penelitian ini merekomendasikan penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia
industri, perbaikan sistem basis data pencari kerja, serta evaluasi berkelanjutan terhadap
relevansi jenis pelatihan yang diselenggarakan.
Kata Kunci: pelatihan kerja; kompetensi; pengangguran terbuka; dinas tenaga kerja;
pasar kerja
ABSTRACT
Open unemployment remains a structural problem faced by almost all regions in
Indonesia, including regencies that rely heavily on agriculture, tourism, and small-scale
industry. One policy instrument used by local governments to reduce unemployment is
competency-based vocational training organized by the Manpower, Transmigration, and
Mineral Resources Energy Office. This study aims to examine the extent to which
competency-based training programs are effective in reducing open unemployment and to
identify the factors that influence their success or constraints. The study employs a
descriptive qualitative approach, collecting data through observation, in-depth interviews
with program managers and trainees, and documentation studies of the office's
performance reports. The results indicate that competency-based training contributes
positively to labor absorption, although outcomes remain suboptimal due to limited
budgets, weak alignment between training curricula and labor market needs, and
insufficient post-training monitoring systems. The study recommends strengthening
partnerships with businesses and industry, improving the jobseeker database system, and
conducting continuous evaluation of the relevance of the training offered.
Keywords: vocational training; competency; open unemployment; manpower office;
labor market
PENDAHULUAN
Persoalan ketenagakerjaan senantiasa menempati posisi strategis dalam
agenda pembangunan daerah, sebab kondisi tenaga kerja secara langsung
memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat, stabilitas sosial, dan pertumbuhan
ekonomi wilayah. Angka pengangguran terbuka yang tinggi tidak hanya
berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, tetapi juga berpotensi
memicu berbagai permasalahan sosial seperti kemiskinan, kriminalitas, dan
urbanisasi yang tidak terkendali. Kondisi ini semakin kompleks ketika dihadapkan
pada dinamika perubahan struktur ekonomi yang menuntut tenaga kerja memiliki
kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri, sementara di sisi lain
angkatan kerja yang tersedia belum sepenuhnya dibekali keterampilan yang
memadai.
Pemerintah daerah melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi
Sumber Daya Mineral memiliki peran sentral dalam merumuskan dan
melaksanakan kebijakan ketenagakerjaan, salah satunya melalui penyelenggaraan
pelatihan kerja berbasis kompetensi. Program ini dirancang untuk membekali
pencari kerja dengan keterampilan teknis maupun non-teknis yang sesuai dengan
kebutuhan pasar kerja, sehingga diharapkan mampu meningkatkan daya saing
lulusan pelatihan dalam memperoleh pekerjaan maupun membuka usaha mandiri.
Namun demikian, efektivitas program tersebut kerap dipertanyakan mengingat
masih tingginya angka pengangguran di berbagai daerah meskipun berbagai jenis
pelatihan telah diselenggarakan secara rutin.
Beberapa kajian terdahulu menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan
kerja sangat bergantung pada kesesuaian antara jenis pelatihan yang diberikan
dengan kebutuhan riil dunia usaha dan dunia industri, ketersediaan instruktur yang
kompeten, serta adanya mekanisme pendampingan pascapelatihan yang
memastikan peserta benar-benar terserap ke dalam pasar kerja atau mampu
membangun usaha mandiri. Ketiadaan salah satu unsur tersebut berpotensi
menyebabkan program pelatihan hanya menjadi kegiatan seremonial yang tidak
memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka pengangguran.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
secara mendalam efektivitas pelaksanaan program pelatihan kerja berbasis
kompetensi yang diselenggarakan oleh dinas terkait, mengidentifikasi faktor
pendukung dan penghambat, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang
dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyempurnaan program di
masa mendatang.
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep pelatihan kerja berbasis kompetensi merujuk pada proses
pembelajaran yang dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap kerja sesuai standar kompetensi kerja yang berlaku pada
bidang pekerjaan tertentu (Wibowo, 2022). Pendekatan ini berbeda dari pelatihan
konvensional karena menekankan pada pencapaian unit kompetensi yang dapat
diukur dan diverifikasi melalui uji kompetensi, sehingga lulusan pelatihan
memiliki bukti formal atas keterampilan yang dikuasainya.
Kajian mengenai hubungan antara pelatihan kerja dan penurunan
pengangguran telah banyak dilakukan dalam literatur ekonomi ketenagakerjaan.
Suryani (2021) misalnya menemukan bahwa efektivitas pelatihan kerja dalam
meningkatkan penyerapan tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian
antara kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan riil dunia usaha, di mana
program pelatihan yang dirancang tanpa mempertimbangkan analisis kebutuhan
pasar cenderung menghasilkan lulusan yang sulit terserap kerja.
Selain aspek kesesuaian kurikulum, sejumlah kajian juga menyoroti
pentingnya keberlanjutan program melalui pendampingan pascapelatihan,
termasuk fasilitasi akses permodalan bagi peserta yang memilih jalur wirausaha
serta penyediaan informasi lowongan kerja bagi peserta yang mengarah pada jalur
kerja formal. Ketiadaan pendampingan tersebut kerap menjadi titik lemah
program pelatihan kerja di berbagai daerah, termasuk yang diselenggarakan oleh
dinas ketenagakerjaan tingkat kabupaten maupun kota.
Berdasarkan tinjauan tersebut, penelitian ini memosisikan diri untuk
melengkapi kajian yang telah ada dengan menyoroti secara spesifik konteks
pelaksanaan pelatihan kerja berbasis kompetensi di lingkungan dinas yang
membawahi fungsi ketenagakerjaan, transmigrasi, dan energi sumber daya
mineral sekaligus, sebuah konteks kelembagaan yang relatif jarang dikaji dalam
literatur sebelumnya.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang
bertujuan untuk memperoleh gambaran secara mendalam dan komprehensif
mengenai fenomena yang diteliti berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan
(Moleong, 2017). Pendekatan ini dipilih karena persoalan efektivitas program
pelatihan kerja tidak cukup dijelaskan melalui angka semata, melainkan
memerlukan pemahaman kontekstual terhadap proses perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi program.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara, yaitu observasi
langsung terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan, wawancara mendalam
terhadap pengelola program di lingkungan dinas serta sejumlah peserta pelatihan
yang telah menyelesaikan program, dan studi dokumentasi terhadap laporan
kinerja tahunan, data jumlah peserta, serta data penempatan kerja pascapelatihan.
Ketiga teknik tersebut digunakan secara triangulatif untuk memastikan validitas
dan kredibilitas data yang diperoleh (Sugiyono, 2019).
Analisis data dilakukan dengan model interaktif melalui tahapan reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data yang diperoleh dari berbagai
sumber dikategorikan berdasarkan tema yang relevan dengan fokus penelitian,
kemudian dianalisis untuk melihat pola hubungan antara pelaksanaan program
dengan capaian penurunan angka pengangguran di wilayah penelitian.
PEMBAHASAN
Pelaksanaan Program Pelatihan Kerja Berbasis Kompetensi
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Sumber Daya Mineral
secara rutin menyelenggarakan berbagai jenis pelatihan kerja, mulai dari pelatihan
keterampilan teknis seperti tata boga, tata busana, otomotif, dan pengelasan,
hingga pelatihan berbasis digital seperti desain grafis dan pemasaran daring.
Pemilihan jenis pelatihan pada umumnya didasarkan pada hasil identifikasi
kebutuhan pasar kerja dan usulan dari masyarakat, meskipun proses identifikasi
tersebut belum sepenuhnya berbasis data yang mutakhir.
Pelaksanaan pelatihan melibatkan instruktur bersertifikat kompetensi yang
bertugas memastikan peserta memperoleh keterampilan sesuai standar kompetensi
kerja nasional. Namun demikian, keterbatasan jumlah instruktur serta durasi
pelatihan yang relatif singkat menjadi kendala tersendiri dalam mencapai kualitas
kompetensi yang optimal, sehingga sebagian peserta merasa masih memerlukan
pendampingan lanjutan setelah program berakhir.
Kontribusi Program terhadap Penurunan Pengangguran
Hasil wawancara dengan pengelola program menunjukkan bahwa sebagian
peserta pelatihan berhasil terserap dalam pasar kerja formal maupun membuka
usaha mandiri berskala kecil setelah menyelesaikan program. Kondisi ini
mengindikasikan bahwa pelatihan kerja berbasis kompetensi memiliki kontribusi
positif terhadap upaya penurunan angka pengangguran, meskipun kontribusinya
belum signifikan secara agregat mengingat jumlah peserta yang dapat difasilitasi
setiap tahunnya masih terbatas dibandingkan jumlah pencari kerja yang terdaftar.
Selain itu, ditemukan bahwa peserta yang mengikuti pelatihan dengan
jenis keterampilan yang memiliki permintaan tinggi di pasar kerja lokal, seperti
pelatihan di bidang pariwisata dan jasa, cenderung memiliki tingkat keterserapan
yang lebih tinggi dibandingkan peserta pelatihan pada bidang yang kurang
diminati industri setempat. Temuan ini menegaskan pentingnya keselarasan antara
jenis pelatihan dengan karakteristik potensi ekonomi daerah.
Faktor Penghambat Efektivitas Program
Beberapa faktor penghambat yang teridentifikasi dalam penelitian ini
antara lain keterbatasan anggaran yang menyebabkan jumlah peserta dan jenis
pelatihan yang dapat diselenggarakan menjadi terbatas, minimnya sinkronisasi
data kebutuhan tenaga kerja antara dinas dengan dunia usaha dan dunia industri,
serta lemahnya sistem pemantauan dan evaluasi pascapelatihan yang
menyebabkan dinas kesulitan mengukur secara akurat tingkat keberhasilan
penempatan kerja peserta.
Kendala lain yang turut memengaruhi efektivitas program adalah
rendahnya motivasi sebagian peserta untuk memanfaatkan keterampilan yang
diperoleh secara optimal, terutama pada peserta yang mengikuti pelatihan hanya
untuk memperoleh insentif harian tanpa komitmen yang kuat untuk
mengembangkan karier atau usaha berdasarkan keterampilan tersebut.
Strategi Penguatan Program
Untuk meningkatkan efektivitas program, diperlukan penguatan kemitraan
strategis antara dinas dengan dunia usaha dan dunia industri melalui skema
pelatihan berbasis permintaan (demand driven training), sehingga jenis dan
kurikulum pelatihan dapat disesuaikan secara langsung dengan kebutuhan
lapangan kerja yang tersedia. Selain itu, pengembangan sistem basis data pencari
kerja dan lowongan pekerjaan yang terintegrasi secara digital akan memudahkan
proses pencocokan (matching) antara lulusan pelatihan dengan peluang kerja yang
sesuai.
Penguatan sistem monitoring dan evaluasi pascapelatihan juga menjadi hal
yang mendesak untuk dilakukan, mengingat data mengenai tingkat keterserapan
kerja peserta pelatihan sangat diperlukan sebagai dasar perbaikan kebijakan pada
periode berikutnya. Dinas perlu membangun mekanisme pelacakan alumni
pelatihan secara berkala guna memastikan keberlanjutan dampak program
terhadap pengurangan angka pengangguran di daerah.
Selain penguatan pada aspek kelembagaan, dinas juga perlu
mempertimbangkan skema insentif bagi peserta yang berhasil mengembangkan
usaha mandiri pascapelatihan, misalnya melalui fasilitasi akses permodalan usaha
mikro atau pendampingan pemasaran produk, sehingga keberhasilan program
tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi juga dari
keberlanjutan usaha atau karier yang mereka jalani dalam jangka menengah dan
panjang.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa program pelatihan
kerja berbasis kompetensi yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja,
Transmigrasi, dan Energi Sumber Daya Mineral memberikan kontribusi positif
meskipun belum optimal terhadap upaya penurunan angka pengangguran terbuka.
Efektivitas program sangat dipengaruhi oleh kesesuaian jenis pelatihan dengan
kebutuhan pasar kerja, kualitas instruktur, serta keberadaan sistem pemantauan
pascapelatihan yang memadai. Keterbatasan anggaran dan lemahnya sinkronisasi
data kebutuhan tenaga kerja menjadi kendala utama yang perlu segera diatasi.
Saran
Dinas terkait disarankan untuk memperkuat kemitraan dengan dunia usaha
dan dunia industri dalam merancang kurikulum pelatihan yang berbasis kebutuhan
riil pasar kerja, mengembangkan sistem informasi ketenagakerjaan yang
terintegrasi, serta membangun mekanisme pelacakan alumni pelatihan secara
sistematis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji efektivitas program
pelatihan secara kuantitatif dengan cakupan sampel yang lebih luas guna
memperoleh gambaran yang lebih representatif.
Bagi pemerintah daerah secara umum, temuan penelitian ini dapat
dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan alokasi anggaran
ketenagakerjaan pada dokumen perencanaan pembangunan daerah, sehingga
program pelatihan kerja berbasis kompetensi memperoleh dukungan sumber daya
yang memadai dan berkelanjutan dari tahun ke tahun, sejalan dengan dinamika
kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyana, I. K. S., & Martadinata, I. P. H. (2020). Metode Penelitian Kualitatif
dalam Kajian Pendidikan dan Sosial. Singaraja: Undiksha Press.
Badan Pusat Statistik. (2024). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: BPS.
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pelatihan
Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kemnaker RI.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sarwono, J. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Suryani, N. K. (2021). Analisis Efektivitas Pelatihan Kerja terhadap Penyerapan
Tenaga Kerja di Bali. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Undiksha, 9(2), 112-124.
Wibowo, A. (2022). Pengembangan Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi.
Jakarta: Rajawali Pers.