(0362) 22574
0081958577465
disnakerkabbll@gmail.com
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi Dan Energi Sumber Daya Mineral

TRANSISI ENERGI TERBARUKAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA HIJAU (GREEN JOBS) DI TINGKAT DAERAH

Admin disnakertransesdm | 22 September 2026 | 1040 kali

TRANSISI ENERGI TERBARUKAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA HIJAU (GREEN JOBS) DI TINGKAT DAERAH


ABSTRAK

Transisi menuju energi terbarukan merupakan agenda strategis nasional dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon, sekaligus membuka peluang baru bagi penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs) di berbagai daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan dampak transisi energi terbarukan terhadap penciptaan lapangan kerja hijau di tingkat daerah, serta mengidentifikasi kesiapan tenaga kerja lokal dalam menghadapi transformasi sektor energi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif eksploratif, melibatkan wawancara dengan pengelola proyek energi terbarukan, pejabat dinas tenaga kerja dan energi sumber daya mineral, serta tenaga kerja lokal yang terlibat dalam proyek pembangkit energi terbarukan. Data dilengkapi dengan telaah dokumen kebijakan energi daerah dan data ketenagakerjaan sektor energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan proyek energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya, tenaga air skala kecil (mikrohidro), dan biomassa, berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja baru pada tahap konstruksi, operasional, dan pemeliharaan. Namun, penciptaan lapangan kerja hijau tersebut belum sepenuhnya dapat diserap oleh tenaga kerja lokal akibat kesenjangan kompetensi teknis pada bidang energi terbarukan yang relatif baru berkembang. Penelitian merekomendasikan penyusunan peta jalan pengembangan kompetensi tenaga kerja hijau, integrasi kurikulum energi terbarukan dalam pelatihan vokasi, serta penguatan kemitraan antara dinas tenaga kerja, pengembang proyek energi, dan lembaga pendidikan vokasi untuk mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal pada sektor energi terbarukan.

Kata Kunci: transisi energi, energi terbarukan, lapangan kerja hijau, green jobs, kompetensi tenaga kerja

I. PENDAHULUAN

Isu perubahan iklim dan kebutuhan akan pembangunan yang berkelanjutan telah mendorong berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mempercepat transisi dari energi berbasis fosil menuju energi terbarukan. Transisi ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan industri energi bersih yang berpotensi menciptakan lapangan kerja pada berbagai tahapan, mulai dari perencanaan, konstruksi, operasional, hingga pemeliharaan infrastruktur energi terbarukan.

Konsep lapangan kerja hijau atau green jobs merujuk pada pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian atau pemulihan kualitas lingkungan, baik pada sektor tradisional seperti manufaktur dan konstruksi, maupun sektor baru seperti energi terbarukan dan efisiensi energi. Di tingkat daerah, potensi pengembangan energi terbarukan sangat beragam sesuai dengan karakteristik sumber daya alam setempat, mencakup energi surya, air, angin, biomassa, dan panas bumi, yang masing-masing memiliki karakteristik kebutuhan tenaga kerja yang berbeda.

Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi Sumber Daya Mineral memiliki peran ganda yang strategis dalam konteks transisi energi, yaitu sebagai pembina sektor energi dan sumber daya mineral sekaligus pembina ketenagakerjaan daerah. Peran ganda ini memberikan posisi yang unik bagi dinas untuk menyelaraskan kebijakan pengembangan energi terbarukan dengan kebijakan pengembangan sumber daya manusia, sehingga potensi penciptaan lapangan kerja hijau dapat dioptimalkan bagi tenaga kerja lokal.

Namun demikian, transisi energi terbarukan turut membawa tantangan tersendiri, khususnya terkait kesiapan kompetensi tenaga kerja lokal. Sebagai sektor yang relatif baru berkembang, industri energi terbarukan membutuhkan keterampilan teknis spesifik yang belum tentu tersedia secara memadai pada angkatan kerja daerah, seperti keterampilan instalasi dan pemeliharaan panel surya, teknisi turbin mikrohidro, atau operator pembangkit berbasis biomassa. Ketimpangan antara laju pertumbuhan proyek energi terbarukan dengan kesiapan tenaga kerja lokal berpotensi menyebabkan sebagian besar tenaga kerja terampil pada proyek tersebut justru berasal dari luar daerah.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian mengenai potensi dan tantangan penciptaan lapangan kerja hijau dari pengembangan energi terbarukan di tingkat daerah, sebagai dasar perumusan kebijakan pengembangan kompetensi tenaga kerja yang selaras dengan arah transisi energi nasional.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis potensi penciptaan lapangan kerja hijau dari pengembangan proyek energi terbarukan di tingkat daerah; (2) mengidentifikasi kesiapan kompetensi tenaga kerja lokal dalam mendukung transisi energi terbarukan; dan (3) merumuskan strategi penguatan kompetensi tenaga kerja untuk mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal pada sektor energi terbarukan.

Kajian ini juga relevan dalam konteks upaya pemerintah daerah untuk menyelaraskan pertumbuhan investasi sektor energi terbarukan dengan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Tanpa perencanaan pengembangan sumber daya manusia yang memadai, pesatnya pertumbuhan investasi energi bersih berisiko hanya memberikan manfaat ketenagakerjaan yang terbatas bagi penduduk lokal di sekitar lokasi proyek.

II. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif eksploratif, yang bertujuan untuk menggali secara mendalam fenomena penciptaan lapangan kerja hijau dari pengembangan energi terbarukan yang relatif baru berkembang di tingkat daerah, sehingga memerlukan eksplorasi awal terhadap pola dan dinamika yang terjadi di lapangan.

Penelitian dilaksanakan pada lokasi proyek pengembangan energi terbarukan yang berada dalam wilayah kerja dinas, mencakup proyek pembangkit listrik tenaga surya skala komunal, pembangkit listrik tenaga mikrohidro, dan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi alternatif. Informan penelitian dipilih secara purposif, terdiri atas pengelola/pengembang proyek energi terbarukan, pejabat dan staf teknis dinas tenaga kerja dan energi sumber daya mineral, serta tenaga kerja lokal yang terlibat dalam tahap konstruksi maupun operasional proyek.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam untuk menggali persepsi dan pengalaman informan terkait proses rekrutmen tenaga kerja, kebutuhan kompetensi, dan tantangan penyerapan tenaga kerja lokal; observasi lapangan pada lokasi proyek energi terbarukan; serta studi dokumentasi terhadap dokumen perencanaan proyek, data ketenagakerjaan sektor energi, dan kebijakan energi daerah.

Analisis data dilakukan secara tematik dengan mengidentifikasi pola-pola terkait potensi penciptaan lapangan kerja, kesenjangan kompetensi, dan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia dari data yang terkumpul. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dengan membandingkan perspektif pengembang proyek, pejabat dinas, dan tenaga kerja lokal terhadap isu yang sama.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Potensi Penciptaan Lapangan Kerja Hijau dari Proyek Energi Terbarukan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan proyek energi terbarukan di wilayah kerja daerah memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja pada berbagai tahapan proyek. Pada tahap konstruksi, proyek pembangkit listrik tenaga surya dan mikrohidro menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah signifikan untuk pekerjaan konstruksi sipil, seperti pembangunan pondasi, saluran air, dan instalasi infrastruktur pendukung, yang umumnya tidak memerlukan keterampilan teknis khusus di bidang energi.

Pada tahap operasional, meskipun jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan relatif lebih sedikit dibandingkan tahap konstruksi, pekerjaan yang tercipta cenderung bersifat jangka panjang dan membutuhkan keterampilan teknis yang lebih spesifik, seperti teknisi pemeliharaan panel surya, operator turbin mikrohidro, dan tenaga pengelola sistem distribusi energi. Pekerjaan pada tahap ini berpotensi memberikan penghasilan yang lebih stabil bagi tenaga kerja lokal yang berhasil menguasai kompetensi yang dibutuhkan.

Selain lapangan kerja langsung, pengembangan proyek energi terbarukan juga menciptakan efek pengganda ekonomi (multiplier effect) melalui tumbuhnya aktivitas ekonomi pendukung di sekitar lokasi proyek, seperti penyediaan jasa akomodasi, katering, dan transportasi bagi pekerja proyek, yang turut membuka peluang kerja tidak langsung bagi masyarakat sekitar.

Beberapa informan juga menyampaikan bahwa keberadaan proyek energi terbarukan turut mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat setempat terhadap pentingnya pemanfaatan energi bersih, yang pada gilirannya membuka peluang usaha baru di tingkat rumah tangga, seperti penyewaan peralatan pendukung dan jasa pemeliharaan skala kecil di luar tanggung jawab utama pengembang proyek.

Kesenjangan Kompetensi Tenaga Kerja Lokal

Meskipun proyek energi terbarukan berpotensi menciptakan lapangan kerja hijau, penelitian menemukan bahwa penyerapan tenaga kerja lokal, khususnya pada posisi teknis operasional, masih menghadapi kendala kesenjangan kompetensi. Sebagian besar tenaga kerja lokal memiliki latar belakang keterampilan pada sektor konvensional seperti pertanian dan konstruksi umum, namun belum memiliki keterampilan spesifik di bidang instalasi dan pemeliharaan teknologi energi terbarukan.

Akibat kesenjangan tersebut, sebagian besar posisi teknis pada tahap operasional proyek energi terbarukan diisi oleh tenaga kerja terampil yang didatangkan dari luar daerah, sementara tenaga kerja lokal umumnya terserap pada posisi dengan keterampilan dasar seperti keamanan lokasi dan pekerjaan pendukung non-teknis. Kondisi ini menyebabkan manfaat ekonomi dari proyek energi terbarukan belum sepenuhnya dirasakan secara optimal oleh tenaga kerja lokal.

Penelitian juga menemukan bahwa belum tersedianya program pelatihan vokasi yang secara khusus membekali keterampilan di bidang energi terbarukan pada lembaga pelatihan kerja di daerah turut menjadi penyebab utama kesenjangan kompetensi tersebut, mengingat kurikulum pelatihan vokasi yang ada saat ini masih didominasi oleh bidang kejuruan konvensional.

Strategi Penguatan Kompetensi Tenaga Kerja untuk Mendukung Transisi Energi

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan strategi penguatan kompetensi tenaga kerja untuk mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal pada sektor energi terbarukan. Pertama, penyusunan peta jalan (roadmap) pengembangan kompetensi tenaga kerja hijau yang selaras dengan rencana pengembangan proyek energi terbarukan di daerah, sehingga penyiapan tenaga kerja dapat dilakukan secara terencana dan tepat waktu sebelum proyek memasuki tahap operasional.

Kedua, integrasi kurikulum energi terbarukan ke dalam program pelatihan vokasi yang diselenggarakan oleh balai latihan kerja, mencakup keterampilan instalasi dan pemeliharaan panel surya, teknisi mikrohidro, dan pengelolaan sistem energi berbasis biomassa, sebagai upaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang kompeten dan siap terserap pada proyek energi terbarukan di wilayahnya.

Ketiga, penguatan kemitraan antara dinas tenaga kerja, pengembang proyek energi terbarukan, dan lembaga pendidikan vokasi dalam skema pelatihan berbasis kebutuhan proyek (project-based training), di mana pengembang proyek dilibatkan dalam perancangan materi pelatihan dan penyediaan kesempatan magang, sehingga tenaga kerja lokal memperoleh pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan riil proyek energi terbarukan yang akan beroperasi di wilayahnya.

IV. PENUTUP

Kesimpulan

Transisi energi terbarukan di tingkat daerah memiliki potensi signifikan dalam menciptakan lapangan kerja hijau, baik pada tahap konstruksi, operasional, maupun melalui efek pengganda ekonomi di sekitar lokasi proyek. Namun, potensi tersebut belum dapat dioptimalkan sepenuhnya oleh tenaga kerja lokal akibat kesenjangan kompetensi teknis di bidang energi terbarukan yang relatif baru berkembang.

Saran

Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi Sumber Daya Mineral disarankan untuk menyusun peta jalan pengembangan kompetensi tenaga kerja hijau, mengintegrasikan kurikulum energi terbarukan ke dalam program pelatihan vokasi, serta memperkuat kemitraan dengan pengembang proyek energi dan lembaga pendidikan vokasi guna meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal pada sektor energi terbarukan secara berkelanjutan.