Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi Dan Energi Sumber Daya Mineral

KETIKA EKONOMI TUMBUH, APAKAH KESEMPATAN KERJA IKUT BERTAMBAH?

Admin disnakertransesdm | 24 Juli 2026 | 747 kali

 Pertumbuhan ekonomi sering dipandang sebagai tanda bahwa suatu daerah sedang bergerak maju. Aktivitas usaha meningkat, investasi mulai masuk, konsumsi masyarakat tumbuh, dan berbagai sektor ekonomi berkembang. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat.

Pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja. Ada daerah yang mencatat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, tetapi jumlah tenaga kerja yang terserap tidak bertambah secara signifikan. Sebaliknya, ada pula daerah yang pertumbuhan ekonominya relatif moderat namun mampu menciptakan banyak lapangan pekerjaan karena didukung sektor-sektor yang padat karya.

Kondisi Kabupaten Buleleng memberikan gambaran yang menarik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2025 tercatat hanya sebesar 1,52 persen, salah satu yang terendah di Bali. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk usia kerja telah memiliki aktivitas ekonomi atau pekerjaan. Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 79,80 persen, yang berarti hampir delapan dari sepuluh penduduk usia kerja telah masuk ke pasar kerja, baik sebagai pekerja maupun pencari kerja.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Buleleng masih mampu menciptakan peluang kerja. Namun, jika dicermati lebih dalam, tantangan yang dihadapi bukan lagi semata-mata jumlah pekerjaan, melainkan kualitas pekerjaan yang tersedia. Banyak tenaga kerja Buleleng yang memilih bekerja ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Jumlah PMI asal Buleleng yang mencapai lebih dari 2.500 orang setiap tahun menjadi indikasi bahwa peluang kerja di luar negeri masih dianggap lebih menjanjikan dibandingkan sebagian pekerjaan yang tersedia di daerah.

Fenomena ini memberikan pesan penting bahwa pertumbuhan ekonomi harus mampu menghasilkan pekerjaan yang produktif, layak, dan memberikan penghasilan yang kompetitif. Pertumbuhan ekonomi yang hanya meningkatkan angka produksi tanpa meningkatkan kualitas pekerjaan berisiko mendorong tenaga kerja produktif mencari peluang di luar daerah bahkan di luar negeri.

Di sinilah pentingnya peran pelatihan kerja dan peningkatan kompetensi. Keberadaan 76 Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) di Buleleng merupakan modal besar untuk menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Pelatihan bidang perhotelan, bahasa asing, perawatan lansia, teknologi informasi, maupun keterampilan teknis lainnya harus terus diperkuat agar masyarakat dapat mengakses pekerjaan yang lebih baik dan memiliki daya saing yang tinggi.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Buleleng perlu diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja besar. Pengembangan UMKM, sektor pertanian modern, perikanan, industri pengolahan hasil pertanian, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis desa dapat menjadi sumber penciptaan lapangan kerja baru. Semakin banyak investasi yang masuk ke sektor-sektor tersebut, semakin besar pula peluang kerja yang tersedia bagi masyarakat lokal.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan apakah ekonomi yang tumbuh akan selalu menambah kesempatan kerja adalah "belum tentu". Pertumbuhan ekonomi akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila mampu menciptakan pekerjaan yang layak, produktif, dan sesuai dengan kompetensi tenaga kerja. Bagi Buleleng, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari rendahnya angka pengangguran, tetapi juga dari kemampuan daerah menyediakan pekerjaan yang berkualitas sehingga masyarakat dapat bekerja, berkembang, dan sejahtera di tanah kelahirannya sendiri.