Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat Kabupaten Buleleng untuk bekerja ke luar negeri mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir akibat sulitnya memperoleh pekerjaan di dalam negeri, melainkan telah menjadi salah satu jalur karier yang menjanjikan bagi banyak warga.
Fenomena ini didorong oleh semakin
terbukanya peluang kerja di berbagai negara, meningkatnya kualitas pelatihan
tenaga kerja, serta daya tarik penghasilan yang relatif lebih tinggi
dibandingkan pekerjaan serupa di dalam negeri. Di sisi lain, meningkatnya
mobilitas tenaga kerja ke luar negeri juga membawa dampak sosial, budaya, dan
adat yang perlu mendapat perhatian.
Bagi Kabupaten Buleleng, fenomena
ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi memberikan kontribusi nyata
terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun di sisi lain menghadirkan
tantangan dalam menjaga keterlibatan generasi muda dalam kehidupan sosial dan
adat istiadat Bali.
Data menunjukkan bahwa Buleleng
merupakan salah satu daerah penyumbang PMI terbesar di Provinsi Bali. Sepanjang
Januari hingga September 2024 tercatat sekitar 1.690 warga Buleleng bekerja ke luar negeri. Mayoritas
bekerja pada sektor darat seperti hotel, restoran, spa, dan industri jasa
lainnya. Jumlah tersebut terus bertambah
hingga mencapai sekitar 2.245 PMI
sepanjang tahun 2024, menjadikan Buleleng sebagai kabupaten dengan
jumlah penempatan PMI tertinggi di Bali. Tren tersebut berlanjut pada tahun 2025. Data menunjukkan, pada
tahun 2025 secara keseluruhan jumlah PMI asal Buleleng mencapai 2.437 orang. Hingga beberapa bulan pertama tahun 2026, jumlah
keberangkatan PMI dari Buleleng juga masih menunjukkan tren yang tinggi,
sebesar 1.052 orang PMI. Data ini menunjukkan bahwa bekerja ke luar negeri masih
menjadi pilihan yang sangat diminati masyarakat Buleleng, terutama oleh
kelompok usia produktif.
Ada beberapa faktor yang
melatarbelakangi minat masyarakat Buleleng
untuk bekerja ke luar negeri terus meningkat, antara lain: (1) Penghasilan yang
lebih menjanjikan. Alasan utama masyarakat memilih bekerja ke luar
negeri adalah faktor ekonomi. Upah yang diterima PMI umumnya jauh lebih tinggi
dibandingkan pekerjaan dengan jenis yang sama di dalam negeri. Banyak PMI mampu
membantu perekonomian keluarga, membangun rumah, membeli lahan, membiayai
pendidikan anak, hingga membuka usaha setelah kembali ke tanah air. (2) Tingginya permintaan tenaga kerja
internasional. Sejumlah negara seperti Jepang, Turki, Italia, Belanda,
Jerman, dan Maladewa masih membutuhkan tenaga kerja asing untuk mengisi sektor
hospitality, pariwisata, perawatan lansia, manufaktur, pertanian, dan kapal
pesiar. Kondisi ini membuka peluang yang luas bagi tenaga kerja asal Buleleng.
(3) Berkembangnya Lembaga Pelatihan
Kerja (LPK). Keberadaan berbagai LPK di Buleleng turut mendorong
meningkatnya minat masyarakat bekerja ke luar negeri. Pelatihan bahasa asing,
hospitality, caregiver, hingga keterampilan teknis membuat calon pekerja
semakin siap bersaing di pasar kerja global. (4) Kisah sukses para PMI. Keberhasilan para PMI yang mampu
meningkatkan taraf hidup keluarganya menjadi motivasi bagi masyarakat lainnya.
Tidak sedikit warga yang terinspirasi oleh saudara, tetangga, atau kerabat yang
telah sukses bekerja di luar negeri. (5) Keterbatasan kesempatan kerja lokal. Meskipun pembangunan ekonomi
terus berlangsung, pertumbuhan lapangan kerja formal di daerah belum sepenuhnya
mampu menyerap seluruh angkatan kerja baru setiap tahunnya. Karena itu, bekerja
ke luar negeri menjadi alternatif yang menarik bagi banyak pencari kerja.
Meningkatnya jumlah PMI memberikan
berbagai manfaat bagi daerah. Penempatan tenaga kerja ke luar negeri membantu
menyerap angkatan kerja yang belum memperoleh pekerjaan di daerah, yang pada
akhirnya akan dapat menurunkan angka pengangguran. Manfaat lainnya seperti meningkatkan pendapatan masyarakat (remitansi
atau kiriman uang dari PMI menjadi sumber pendapatan yang sangat penting bagi
banyak keluarga di Buleleng). Dana yang dikirim PMI umumnya digunakan untuk membangun
rumah, membeli aset produktif, membuka usaha kecil, serta membiayai pendidikan
anggota keluarga sehingga ekonomi desa
dapat tergerakkan. Setelah kembali ke daerah asal, PMI membawa
pengalaman internasional, kemampuan bahasa asing, disiplin kerja, dan
keterampilan profesional yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan daerah.
Selain memberikan manfaat ekonomi,
meningkatnya jumlah PMI juga membawa pengaruh terhadap kehidupan adat dan
budaya masyarakat Buleleng. Meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga
memungkinkan pelaksanaan berbagai kegiatan adat dan keagamaan berlangsung
dengan lebih baik. Banyak keluarga PMI mampu memenuhi kewajiban adat,
melaksanakan upacara keagamaan, serta berkontribusi dalam pembangunan fasilitas
desa dan pura (mendukung pembiayaan
kegiatan adat). Dampak positif lainnya adalah kontribusi bagi pembangunan desa
adat. Tidak sedikit PMI yang tetap aktif mendukung kegiatan sosial dan
adat melalui bantuan dana untuk pembangunan pura, balai banjar, maupun kegiatan
kemasyarakatan lainnya. Pengalaman hidup dan bekerja di luar negeri turut
memperkaya wawasan masyarakat yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi
positif terhadap pembangunan desa.
Namun
demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa meningkatnya jumlah PMI juga dapat
memberikan tantangan tersendiri bagi kehidupan adat di Buleleng, seperti berkurangnya
tenaga produktif untuk kegiatan adat. Hal ini disebabkan karena mayoritas PMI berasal dari kelompok usia muda dan produktif
yang selama ini menjadi motor penggerak kegiatan banjar dan desa adat.
Akibatnya, beberapa kegiatan ngayah dan gotong royong menghadapi keterbatasan
tenaga. Tantangan lainnya adalah terganggunya regenerasi organisasi adat. Sekaa teruna, banjar, maupun lembaga
adat membutuhkan regenerasi yang berkelanjutan. Tingginya mobilitas tenaga
kerja keluar daerah berpotensi mengurangi keterlibatan generasi muda dalam
proses regenerasi tersebut. Menurunnya kehadiran
pada kegiatan sosial keagamaan serta terjadinya perubahan pola hidup. Keterbatasan
waktu cuti dan jarak membuat sebagian PMI tidak dapat hadir dalam kegiatan
adat, piodalan, maupun upacara keluarga yang penting. Juga, pengaruh budaya
global dapat membawa perubahan pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Oleh
karena itu, diperlukan upaya menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap
perubahan dengan pelestarian nilai-nilai budaya Bali.
Selain persoalan adat dan budaya,
terdapat beberapa tantangan lain yang perlu mendapat perhatian, seperti:
1. Penempatan Nonprosedural
Masih terdapat masyarakat yang
tergiur berangkat melalui jalur tidak resmi sehingga berpotensi menghadapi
berbagai masalah hukum maupun ketenagakerjaan.
2. Risiko Tindak Pidana Perdagangan
Orang (TPPO)
Kurangnya pemahaman mengenai
prosedur resmi dapat meningkatkan risiko menjadi korban penipuan dan
perdagangan orang.
Pemerintah daerah perlu terus memperkuat edukasi, pelatihan,
dan pengawasan terhadap proses penempatan PMI agar seluruh pekerja memperoleh
perlindungan yang memadai.
Fenomena meningkatnya minat bekerja
ke luar negeri tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi kehidupan adat
masyarakat Bali. Justru, jika dikelola dengan baik, keberadaan PMI dapat
menjadi modal pembangunan daerah sekaligus pendukung pelestarian budaya.
Pemerintah daerah, desa adat,
keluarga, dan lembaga pelatihan perlu bersinergi agar masyarakat yang bekerja
ke luar negeri tetap memiliki keterikatan dengan desa asalnya. Pemanfaatan
teknologi komunikasi, pelibatan PMI dalam pembangunan desa, serta penguatan
pendidikan budaya bagi generasi muda menjadi langkah penting untuk menjaga
keseimbangan tersebut.
“Meningkatnya minat masyarakat Buleleng bekerja ke luar negeri merupakan cerminan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap pasar kerja global. Fenomena ini telah memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga, pengurangan pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Namun demikian, tingginya angka migrasi tenaga kerja juga membawa tantangan baru, khususnya dalam menjaga keberlanjutan kehidupan adat, budaya, dan partisipasi generasi muda dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Karena itu, keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan tidak hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang berhasil bekerja, tetapi juga dari kemampuan daerah menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, perlindungan pekerja, dan kelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Buleleng”.
#Dari Buleleng menuju dunia, namun tetap berakar pada adat, budaya, dan jati diri Bali#
Penulis: Putu Arimbawa
Disnakertrans ESDM Kab. Buleleng