Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi Dan Energi Sumber Daya Mineral

BEKERJA KE LUAR NEGERI: PELUANG EKONOMI GLOBAL versus TANTANGAN PELESTARIAN ADAT DI BULELENG

Admin disnakertransesdm | 19 Juni 2026 | 1253 kali


        Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat Kabupaten Buleleng untuk bekerja ke luar negeri mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir akibat sulitnya memperoleh pekerjaan di dalam negeri, melainkan telah menjadi salah satu jalur karier yang menjanjikan bagi banyak warga.

Fenomena ini didorong oleh semakin terbukanya peluang kerja di berbagai negara, meningkatnya kualitas pelatihan tenaga kerja, serta daya tarik penghasilan yang relatif lebih tinggi dibandingkan pekerjaan serupa di dalam negeri. Di sisi lain, meningkatnya mobilitas tenaga kerja ke luar negeri juga membawa dampak sosial, budaya, dan adat yang perlu mendapat perhatian.

Bagi Kabupaten Buleleng, fenomena ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun di sisi lain menghadirkan tantangan dalam menjaga keterlibatan generasi muda dalam kehidupan sosial dan adat istiadat Bali.

Data menunjukkan bahwa Buleleng merupakan salah satu daerah penyumbang PMI terbesar di Provinsi Bali. Sepanjang Januari hingga September 2024 tercatat sekitar 1.690 warga Buleleng bekerja ke luar negeri. Mayoritas bekerja pada sektor darat seperti hotel, restoran, spa, dan industri jasa lainnya. Jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai sekitar 2.245 PMI sepanjang tahun 2024, menjadikan Buleleng sebagai kabupaten dengan jumlah penempatan PMI tertinggi di Bali. Tren tersebut berlanjut pada tahun 2025. Data menunjukkan, pada tahun 2025 secara keseluruhan jumlah PMI asal Buleleng mencapai 2.437 orang. Hingga beberapa bulan pertama tahun 2026, jumlah keberangkatan PMI dari Buleleng juga masih menunjukkan tren yang tinggi, sebesar 1.052 orang PMI. Data ini menunjukkan bahwa bekerja ke luar negeri masih menjadi pilihan yang sangat diminati masyarakat Buleleng, terutama oleh kelompok usia produktif.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi minat masyarakat Buleleng untuk bekerja ke luar negeri terus meningkat, antara lain: (1) Penghasilan yang lebih menjanjikan. Alasan utama masyarakat memilih bekerja ke luar negeri adalah faktor ekonomi. Upah yang diterima PMI umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan pekerjaan dengan jenis yang sama di dalam negeri. Banyak PMI mampu membantu perekonomian keluarga, membangun rumah, membeli lahan, membiayai pendidikan anak, hingga membuka usaha setelah kembali ke tanah air. (2) Tingginya permintaan tenaga kerja internasional. Sejumlah negara seperti Jepang, Turki, Italia, Belanda, Jerman, dan Maladewa masih membutuhkan tenaga kerja asing untuk mengisi sektor hospitality, pariwisata, perawatan lansia, manufaktur, pertanian, dan kapal pesiar. Kondisi ini membuka peluang yang luas bagi tenaga kerja asal Buleleng. (3) Berkembangnya Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Keberadaan berbagai LPK di Buleleng turut mendorong meningkatnya minat masyarakat bekerja ke luar negeri. Pelatihan bahasa asing, hospitality, caregiver, hingga keterampilan teknis membuat calon pekerja semakin siap bersaing di pasar kerja global. (4) Kisah sukses para PMI. Keberhasilan para PMI yang mampu meningkatkan taraf hidup keluarganya menjadi motivasi bagi masyarakat lainnya. Tidak sedikit warga yang terinspirasi oleh saudara, tetangga, atau kerabat yang telah sukses bekerja di luar negeri. (5) Keterbatasan kesempatan kerja lokal. Meskipun pembangunan ekonomi terus berlangsung, pertumbuhan lapangan kerja formal di daerah belum sepenuhnya mampu menyerap seluruh angkatan kerja baru setiap tahunnya. Karena itu, bekerja ke luar negeri menjadi alternatif yang menarik bagi banyak pencari kerja.

Meningkatnya jumlah PMI memberikan berbagai manfaat bagi daerah. Penempatan tenaga kerja ke luar negeri membantu menyerap angkatan kerja yang belum memperoleh pekerjaan di daerah, yang pada akhirnya akan dapat menurunkan angka pengangguran. Manfaat lainnya seperti meningkatkan pendapatan masyarakat (remitansi atau kiriman uang dari PMI menjadi sumber pendapatan yang sangat penting bagi banyak keluarga di Buleleng). Dana yang dikirim PMI umumnya digunakan untuk membangun rumah, membeli aset produktif, membuka usaha kecil, serta membiayai pendidikan anggota keluarga sehingga ekonomi desa dapat tergerakkan. Setelah kembali ke daerah asal, PMI membawa pengalaman internasional, kemampuan bahasa asing, disiplin kerja, dan keterampilan profesional yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan daerah.

Selain memberikan manfaat ekonomi, meningkatnya jumlah PMI juga membawa pengaruh terhadap kehidupan adat dan budaya masyarakat Buleleng. Meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga memungkinkan pelaksanaan berbagai kegiatan adat dan keagamaan berlangsung dengan lebih baik. Banyak keluarga PMI mampu memenuhi kewajiban adat, melaksanakan upacara keagamaan, serta berkontribusi dalam pembangunan fasilitas desa dan pura (mendukung pembiayaan kegiatan adat). Dampak positif lainnya adalah kontribusi bagi pembangunan desa adat. Tidak sedikit PMI yang tetap aktif mendukung kegiatan sosial dan adat melalui bantuan dana untuk pembangunan pura, balai banjar, maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya. Pengalaman hidup dan bekerja di luar negeri turut memperkaya wawasan masyarakat yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan desa.

Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa meningkatnya jumlah PMI juga dapat memberikan tantangan tersendiri bagi kehidupan adat di Buleleng, seperti berkurangnya tenaga produktif untuk kegiatan adat. Hal ini disebabkan karena mayoritas PMI berasal dari kelompok usia muda dan produktif yang selama ini menjadi motor penggerak kegiatan banjar dan desa adat. Akibatnya, beberapa kegiatan ngayah dan gotong royong menghadapi keterbatasan tenaga. Tantangan lainnya adalah terganggunya regenerasi organisasi adat. Sekaa teruna, banjar, maupun lembaga adat membutuhkan regenerasi yang berkelanjutan. Tingginya mobilitas tenaga kerja keluar daerah berpotensi mengurangi keterlibatan generasi muda dalam proses regenerasi tersebut. Menurunnya kehadiran pada kegiatan sosial keagamaan serta terjadinya perubahan pola hidup. Keterbatasan waktu cuti dan jarak membuat sebagian PMI tidak dapat hadir dalam kegiatan adat, piodalan, maupun upacara keluarga yang penting. Juga, pengaruh budaya global dapat membawa perubahan pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap perubahan dengan pelestarian nilai-nilai budaya Bali.

Selain persoalan adat dan budaya, terdapat beberapa tantangan lain yang perlu mendapat perhatian, seperti:

1.   Penempatan Nonprosedural

Masih terdapat masyarakat yang tergiur berangkat melalui jalur tidak resmi sehingga berpotensi menghadapi berbagai masalah hukum maupun ketenagakerjaan.

2.   Risiko Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)

Kurangnya pemahaman mengenai prosedur resmi dapat meningkatkan risiko menjadi korban penipuan dan perdagangan orang.

Pemerintah daerah perlu terus memperkuat edukasi, pelatihan, dan pengawasan terhadap proses penempatan PMI agar seluruh pekerja memperoleh perlindungan yang memadai.

Fenomena meningkatnya minat bekerja ke luar negeri tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi kehidupan adat masyarakat Bali. Justru, jika dikelola dengan baik, keberadaan PMI dapat menjadi modal pembangunan daerah sekaligus pendukung pelestarian budaya.

Pemerintah daerah, desa adat, keluarga, dan lembaga pelatihan perlu bersinergi agar masyarakat yang bekerja ke luar negeri tetap memiliki keterikatan dengan desa asalnya. Pemanfaatan teknologi komunikasi, pelibatan PMI dalam pembangunan desa, serta penguatan pendidikan budaya bagi generasi muda menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan tersebut.

 Meningkatnya minat masyarakat Buleleng bekerja ke luar negeri merupakan cerminan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap pasar kerja global. Fenomena ini telah memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga, pengurangan pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Namun demikian, tingginya angka migrasi tenaga kerja juga membawa tantangan baru, khususnya dalam menjaga keberlanjutan kehidupan adat, budaya, dan partisipasi generasi muda dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Karena itu, keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan tidak hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang berhasil bekerja, tetapi juga dari kemampuan daerah menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, perlindungan pekerja, dan kelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Buleleng”.

 #Dari Buleleng menuju dunia, namun tetap berakar pada adat, budaya, dan jati diri Bali#

Penulis: Putu Arimbawa

Disnakertrans ESDM Kab. Buleleng