Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi Dan Energi Sumber Daya Mineral

KRISIS BURUH PETIK CENGKIH DI BULELENG: TANTANGAN KETENAGAKERJAAN DI TENGAH PANEN RAYA

Admin disnakertransesdm | 24 Juni 2026 | 1025 kali

Cengkih merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan Kabupaten Buleleng yang telah menjadi sumber penghidupan masyarakat selama puluhan tahun. Namun dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat musim panen raya, para petani menghadapi persoalan yang semakin serius, yaitu sulitnya mendapatkan buruh petik cengkih. Fenomena ini tidak hanya menjadi masalah pertanian, tetapi juga mencerminkan perubahan struktur ketenagakerjaan di pedesaan. Berbagai laporan menunjukkan bahwa petani di Buleleng bahkan terpaksa mendatangkan tenaga petik dari Pulau Jawa karena ketersediaan tenaga kerja lokal semakin terbatas.

Dari perspektif ketenagakerjaan, salah satu penyebab utama kelangkaan buruh petik adalah berkurangnya jumlah penduduk usia produktif yang berminat bekerja di sektor pertanian. Generasi muda cenderung memilih bekerja di sektor pariwisata, perdagangan, jasa, atau merantau ke kota besar karena dianggap menawarkan pendapatan yang lebih pasti, lingkungan kerja yang lebih nyaman, dan jenjang karier yang lebih jelas. Akibatnya, sektor pertanian semakin didominasi oleh tenaga kerja berusia lanjut, sementara regenerasi pekerja pertanian berjalan lambat.

Penyebab lainnya adalah panen cengkih yang berlangsung secara serentak di banyak wilayah Bali, termasuk Busungbiu, Banjar, Sukasada, dan beberapa daerah lainnya. Ketika kebutuhan tenaga kerja meningkat secara bersamaan, jumlah buruh petik yang tersedia tidak mampu memenuhi permintaan. Situasi ini menciptakan persaingan antarpetani untuk mendapatkan tenaga kerja sehingga biaya panen meningkat secara signifikan.

Faktor risiko pekerjaan juga menjadi alasan mengapa profesi buruh petik kurang diminati. Sebagian besar pohon cengkih di Buleleng sudah berumur puluhan tahun dan memiliki tinggi yang mencapai belasan meter. Pekerjaan memanjat pohon tinggi dengan risiko jatuh tentu membutuhkan keterampilan khusus dan keberanian. Kondisi ini membuat banyak calon pekerja memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih aman dan tidak terlalu berat secara fisik.

Kelangkaan buruh petik membawa dampak ekonomi yang cukup besar bagi petani. Jika panen terlambat dilakukan, bunga cengkih dapat berubah menjadi buah sehingga kualitas dan nilai jualnya menurun. Dalam kondisi tertentu, petani berpotensi kehilangan sebagian hasil panennya. Untuk menghindari kerugian tersebut, banyak petani memilih mendatangkan pekerja dari luar daerah dengan biaya transportasi, konsumsi, dan akomodasi tambahan yang meningkatkan ongkos produksi.

Dari sisi ketenagakerjaan daerah, fenomena ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara ketersediaan tenaga kerja dan kebutuhan pasar kerja lokal. Di satu sisi masih terdapat pencari kerja, tetapi di sisi lain sektor pertanian mengalami kekurangan tenaga kerja. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sektor pertanian belum cukup menarik bagi angkatan kerja muda, baik dari sisi pendapatan, perlindungan kerja, maupun citra pekerjaan itu sendiri.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani cengkih, tetapi juga terhadap keberlanjutan sektor perkebunan Buleleng. Biaya produksi yang semakin tinggi dapat menurunkan keuntungan petani dan mengurangi minat masyarakat untuk mempertahankan kebun cengkih. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mengurangi produksi komoditas unggulan daerah serta melemahkan kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian lokal.

Karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan sektor ketenagakerjaan dan pertanian secara bersamaan. Peningkatan keterampilan tenaga kerja pertanian, pengembangan mekanisasi panen, program regenerasi petani muda, serta penciptaan skema kerja yang lebih menarik bagi generasi muda perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain itu, penguatan pelatihan kerja berbasis agroindustri melalui BLK dan kolaborasi dengan kelompok tani dapat menjadi solusi untuk menyiapkan tenaga kerja pertanian yang kompeten dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kesulitan mendapatkan buruh petik cengkih bukan sekadar persoalan panen musiman, melainkan cerminan transformasi dunia kerja di pedesaan. Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, krisis tenaga kerja pertanian dapat menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan komoditas unggulan Buleleng di masa depan.