Perubahan iklim, peningkatan
kebutuhan energi, dan tuntutan pembangunan berkelanjutan menjadikan pemanfaatan
energi bersih sebagai salah satu agenda penting dalam pembangunan daerah.
Energi bersih tidak hanya berfungsi mengurangi ketergantungan terhadap bahan
bakar fosil, tetapi juga menciptakan sistem energi yang lebih ramah lingkungan,
efisien, dan berkelanjutan. Bagi Kabupaten Buleleng, pengembangan energi bersih
merupakan peluang strategis mengingat daerah ini memiliki potensi sumber daya
alam yang mendukung pengembangan berbagai jenis energi terbarukan.
Secara geografis, Buleleng memiliki
intensitas sinar matahari yang tinggi hampir sepanjang tahun. Kondisi ini
menjadikan energi surya sebagai salah satu sumber energi bersih yang paling
potensial untuk dikembangkan. Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya
(PLTS), baik skala rumah tangga, fasilitas publik, maupun sektor usaha, dapat
membantu mengurangi biaya energi sekaligus menurunkan emisi karbon. Potensi ini
sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Bali yang mendorong transisi menuju
energi bersih dan kemandirian energi daerah.
Langkah nyata menuju pemanfaatan
energi bersih telah terlihat di Kabupaten Buleleng. Pada tahun 2025, Desa
Banjarasem, Kecamatan Seririt, ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan
Desa Berbasis Energi Terbarukan (DBET) di Bali. Dalam program tersebut dipasang
PLTS atap dengan total kapasitas 15,37 kWp yang dilengkapi sistem baterai untuk
mendukung kebutuhan listrik fasilitas publik desa. Inisiatif ini menunjukkan
bahwa pemanfaatan energi surya tidak lagi menjadi konsep masa depan, tetapi
sudah mulai diterapkan secara nyata di tingkat desa.
Selain energi surya, Buleleng juga
memiliki potensi pengembangan energi berbasis sumber daya air. Kawasan
pegunungan dan daerah aliran sungai di wilayah utara Bali memberikan peluang
pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Data PLN menunjukkan bahwa
potensi pembangkit listrik mikrohidro di Bali mencapai sekitar 24,5 MW,
sementara pemanfaatannya masih relatif rendah. Kondisi ini membuka peluang bagi
daerah-daerah yang memiliki sumber daya air untuk mendukung peningkatan
pemanfaatan energi terbarukan di masa mendatang.
Optimalisasi energi bersih juga
dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Buleleng.
Pengembangan PLTS, instalasi sistem energi terbarukan, serta perawatan dan
operasionalnya berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Kebutuhan tenaga
teknis, instalator panel surya, operator sistem energi, hingga konsultan energi
akan terus meningkat seiring berkembangnya investasi di sektor energi hijau.
Dengan demikian, pengembangan energi bersih tidak hanya mendukung lingkungan,
tetapi juga berkontribusi terhadap penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan
pendapatan masyarakat.
Dari sisi kebijakan, Bali telah
menunjukkan komitmen kuat terhadap energi bersih melalui berbagai regulasi dan
program pembangunan rendah karbon. Pemerintah Provinsi Bali bahkan menargetkan
terwujudnya Bali yang mandiri energi dan mendukung agenda Bali Net Zero
Emission (NZE) 2045. Komitmen tersebut menjadi peluang bagi Buleleng untuk
mengambil peran lebih besar sebagai salah satu daerah pelopor pengembangan
energi terbarukan di Bali.
Data terbaru menunjukkan bahwa
kapasitas PLTS terpasang di seluruh Bali telah mencapai sekitar 50 MW. Namun
angka tersebut masih jauh dari potensi energi surya Bali yang diperkirakan
mencapai 1.254 MW. Hal ini menunjukkan masih terbukanya ruang yang sangat besar
untuk pengembangan energi surya, termasuk di Kabupaten Buleleng yang memiliki
ketersediaan lahan dan paparan sinar matahari yang memadai.
Di tingkat nasional, bauran energi
terbarukan Indonesia pada tahun 2025 tercatat sekitar 15,75 persen, masih di
bawah target yang telah ditetapkan pemerintah. Fakta ini menunjukkan bahwa
daerah-daerah seperti Buleleng memiliki peran penting dalam mempercepat
peningkatan kontribusi energi terbarukan melalui inovasi dan investasi di
sektor energi bersih.
Ke depan, optimalisasi pemanfaatan
energi bersih di Buleleng perlu didukung melalui kolaborasi antara pemerintah,
dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pemanfaatan atap gedung
pemerintah untuk PLTS, pengembangan desa energi mandiri, penggunaan energi
terbarukan pada sektor pariwisata, serta peningkatan kapasitas sumber daya
manusia di bidang energi hijau dapat menjadi langkah strategis yang perlu
diperkuat. Dengan potensi yang dimiliki, Buleleng berpeluang menjadi salah satu
pusat pengembangan energi bersih di Bali sekaligus menjadi contoh bagaimana
transisi energi dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat.