Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi Dan Energi Sumber Daya Mineral

OPTIMALISASI PEMANFAATAN ENERGI BERSIH DI BULELENG

Admin disnakertransesdm | 22 Juni 2026 | 1565 kali

 

Perubahan iklim, peningkatan kebutuhan energi, dan tuntutan pembangunan berkelanjutan menjadikan pemanfaatan energi bersih sebagai salah satu agenda penting dalam pembangunan daerah. Energi bersih tidak hanya berfungsi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, tetapi juga menciptakan sistem energi yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan. Bagi Kabupaten Buleleng, pengembangan energi bersih merupakan peluang strategis mengingat daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang mendukung pengembangan berbagai jenis energi terbarukan.

Secara geografis, Buleleng memiliki intensitas sinar matahari yang tinggi hampir sepanjang tahun. Kondisi ini menjadikan energi surya sebagai salah satu sumber energi bersih yang paling potensial untuk dikembangkan. Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), baik skala rumah tangga, fasilitas publik, maupun sektor usaha, dapat membantu mengurangi biaya energi sekaligus menurunkan emisi karbon. Potensi ini sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Bali yang mendorong transisi menuju energi bersih dan kemandirian energi daerah.

Langkah nyata menuju pemanfaatan energi bersih telah terlihat di Kabupaten Buleleng. Pada tahun 2025, Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan Desa Berbasis Energi Terbarukan (DBET) di Bali. Dalam program tersebut dipasang PLTS atap dengan total kapasitas 15,37 kWp yang dilengkapi sistem baterai untuk mendukung kebutuhan listrik fasilitas publik desa. Inisiatif ini menunjukkan bahwa pemanfaatan energi surya tidak lagi menjadi konsep masa depan, tetapi sudah mulai diterapkan secara nyata di tingkat desa.

Selain energi surya, Buleleng juga memiliki potensi pengembangan energi berbasis sumber daya air. Kawasan pegunungan dan daerah aliran sungai di wilayah utara Bali memberikan peluang pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Data PLN menunjukkan bahwa potensi pembangkit listrik mikrohidro di Bali mencapai sekitar 24,5 MW, sementara pemanfaatannya masih relatif rendah. Kondisi ini membuka peluang bagi daerah-daerah yang memiliki sumber daya air untuk mendukung peningkatan pemanfaatan energi terbarukan di masa mendatang.

Optimalisasi energi bersih juga dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Buleleng. Pengembangan PLTS, instalasi sistem energi terbarukan, serta perawatan dan operasionalnya berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Kebutuhan tenaga teknis, instalator panel surya, operator sistem energi, hingga konsultan energi akan terus meningkat seiring berkembangnya investasi di sektor energi hijau. Dengan demikian, pengembangan energi bersih tidak hanya mendukung lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Dari sisi kebijakan, Bali telah menunjukkan komitmen kuat terhadap energi bersih melalui berbagai regulasi dan program pembangunan rendah karbon. Pemerintah Provinsi Bali bahkan menargetkan terwujudnya Bali yang mandiri energi dan mendukung agenda Bali Net Zero Emission (NZE) 2045. Komitmen tersebut menjadi peluang bagi Buleleng untuk mengambil peran lebih besar sebagai salah satu daerah pelopor pengembangan energi terbarukan di Bali.

Data terbaru menunjukkan bahwa kapasitas PLTS terpasang di seluruh Bali telah mencapai sekitar 50 MW. Namun angka tersebut masih jauh dari potensi energi surya Bali yang diperkirakan mencapai 1.254 MW. Hal ini menunjukkan masih terbukanya ruang yang sangat besar untuk pengembangan energi surya, termasuk di Kabupaten Buleleng yang memiliki ketersediaan lahan dan paparan sinar matahari yang memadai.

Di tingkat nasional, bauran energi terbarukan Indonesia pada tahun 2025 tercatat sekitar 15,75 persen, masih di bawah target yang telah ditetapkan pemerintah. Fakta ini menunjukkan bahwa daerah-daerah seperti Buleleng memiliki peran penting dalam mempercepat peningkatan kontribusi energi terbarukan melalui inovasi dan investasi di sektor energi bersih.

Ke depan, optimalisasi pemanfaatan energi bersih di Buleleng perlu didukung melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pemanfaatan atap gedung pemerintah untuk PLTS, pengembangan desa energi mandiri, penggunaan energi terbarukan pada sektor pariwisata, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang energi hijau dapat menjadi langkah strategis yang perlu diperkuat. Dengan potensi yang dimiliki, Buleleng berpeluang menjadi salah satu pusat pengembangan energi bersih di Bali sekaligus menjadi contoh bagaimana transisi energi dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.